Selasa, 10 Juni 2014

Mereka dan Kita

Hidup dan Pilihan

Pernah anda bertanya di dalam hati terkecil anda tentang arti kehidupan? Atau pernah terlintas dipikiran anda sebuah pertanyaan, untuk apa saya hidup didunia ini?
Kalau saya sih iyaaaaa, hehhe J, pertanyaan itu terkadang terlintas di dalam pikiran saya dan akan sering muncul ketika saya sedang sendiri. :)

Hmmm, hiduppp… tak ada kalimat yang pasti untuk mendefinisikan kata tersebut. jujur terkadang saya masih bingung ketika ada orang yang berkata, coba jelaskan pengertian hidup menurut anda!!!! Pasti kalimat yang pertama dikeluarkan… “hidup ituuuuuuuu, apa yak??? Hehhehheh” … ya maklumlah anak muda, terkadang jiwa mereka labil (termasuk saya).

Seiring dengan berjalannya waktu, berjalannya usia dan berjalan-jalan lainnya yang bisa dijalankan. Saya dapat memilih kalimat yang cocok untuk  kata tersebut di dalam pikiran saya.

hidup itu adalah pilihan” pasti basi ya mendengar atau melihat kalimat itu, tapi percaya deh itu yang terjadi sesungguhnya. Contoh.. ketika saya diberikan pilihan untuk lulus dari perguruan tinggi, mau lulus lewat jalur kompre atau skripsi? Mau tidak mau, suka tidak suka saya harus memilih diantara kedua pilihan tersebut. tentunya diantara pilihan tersebut terdapat resiko yang harus saya ambil nantinya. Lalu saya tanamkan sebuah kalimat didalam otak saya yaitu “saya pilih skripsi!!”.

Banyak orang yang bertanya, “kenapa harus skripsi? Kan ribet dan lama prosesnya” atau pertanyaan lain seperti “katanya mau cepet lulus, kok milihnya skripsi bukan kompre?” dan masih ada pertanyaan-pertanyaan lain yang terkadang membuat hati dan pikiran saya CAPEK, hehehhe v^^

Dari pertanyaan itu saya menjawab… “bukannya hidup itu adalah pilihan? Ini yang saya pilih untuk hidup saya, ini yang saya inginkan. Saya telah memilih ini dan saya tahu ada resiko didalamnya. Mau tidak mau, suka tidak suka saya akan tetap jalani ini semua karena saya yang memilih ini. Masalah hal yang terburuk yang nantinya akan terjadi sama saya, itu tidak ada masalah karena ini yang saya pilih”

Atau contoh lain (ini biasanya yang paling disukai) yaituuu cinta / pasangan. Pernah mendengar atau melihat kalimat “cinta itu harus memilih”, mungkin ada beberapa orang yang tidak setuju dengan kalimat  tersebut, tetapi saya setuju akan kalimat tersebut. kenapa tidak??? Kebayang kan kalau setiap pasangan kita, si pasangan  memiliki lebih dari satu pasangan dan dia tidak bisa memilih diantaranya. Saya yakin pasti itu rasanya JELEB banget. Tidak perlu saya jelaskan panjang lebar pasti anda semua mempunyai imajenasi masing-masing.

Atau contoh lain seperti ketika saya membuang botol-botol minuman atau apapun itu yang dinamakan barang sudah tidak terpakai (menurut saya). Ketika saya buang ke dalam ember sampah depan rumah, lalu ada yang bertanya “mbak botolnya boleh saya ambil?” lalu saya menjawab “oh iya silahkan”

Yang kita anggap tidak berguna, kita anggap sampah, kotor dan apapun itu bisa jadi bermanfaat atau bahkan memberikan nilai ekonomi yang tinggi untuk orang lain. Dan dari botol-botol itu atau apapun itu yang dari ember sampah bisa membiayai kehidupan mereka sehari-hari. Dan mereka yang menjalaninya terlihat senang, dan terlihat bangga ketika anak-anak mereka bisa sekolah dari pekerjaan mereka yang mungkin dianggap rendah oleh sebagian orang.

Ketika mereka dianggap rendah oleh sebagian orang justru terkadang mereka meninggikan derajatnya dengan tingkah lakunya. Hidup itu tergantung bagaimana kita yang menjalani. Kalau kita menginginkan hidup yang menyenangkan insyaallah akan menyenangkan. Tapi kalau kita menggerutu akan kehidupan yang dijalani ya gimana yahhhh???  Kita aja enggak bisa mengenakan hidup, bagaimana hidup akan mengenakan kita? Iya enggak?

Bersyukur saja atas apa yang terjadi, memang semua itu tidak lepas dari yang namanya takdir, tapi kita tidak bisa kan pasrah dengan takdir begitu saja..

Istilah kasarnya atau istilah gaulnyaaaa ituuuuuuuu

“INI PILIHAN LOE, INI YANG LOE MAU, JADI LOE HARUS MENJALANI INI SEMUA, ENGGAK BOLEH NGELUH, TETAP NIKMATI, KARENA INI PILIHAN LOE DAN INI UNTUK HIDUP LOE, UNTUK KEBAIKAN LOE, BUKAN UNTUK ORANG LAIN”       

Selasa, 13 Mei 2014

TIMBUL TENGGELAM yang sulit tenggelam..

PART_1

Kalau hati yang lagi galau itu enaknya ngumpul sama temen-temen, ketawa-ketiwi, pokoknya kegiatan yang bikin happy lah yah. Siang itu Aerhien yang sedang kebingungan karena kesepian iseng menghubungi teman-temannya, dan ada satu kontak yang membuatnya teringat sesuatu. Tanpa pikir panjang, ia langsung menulis sesuatu..

“Haiii ries”
Menunggu balasan yang cepat tak kunjung datang, satu jam kemudian ada message di handphonenya.
“hai juga Rhien, kenapa?”
“gmn kabar? Masih hidup? Kirainn udah mati, :P”
“kalau udh mati gk bakal bisa bless ms lo ini rhien -.-)”
“hahhaah, iya juga sih. Lagi sibuk apa ries sekrng?”
“biasalah anak muda, lg sibuk bernafas sama menata hidup”
“gaya bangettt ini orang, huuuu”
“hahahha, knp rhien, tumben sms gue, kirain udh lupa”
“gklah, msa gue lupain tmn, hahhaha”
“ohh jd cma tmn doang nih??”
“ hahhah, emang maunya apa? Kekasih hati?”
“ya siapa tau gtu, ckckkc”
“oiy ries lo bsok free gak? Jalan yuk lah, lagi mles di rmh nih”
“capek neng kalau jln mah, mnding sini naek motor breng sama abang, hehhehe”
“ arrrggggghh zzzzzz….. -.-)”
“hahhha, mau jln kmn rhien?”
“ nonton yuk, ada film baru tuh di bioskop, kata tmn gue sih rame, gmn?”
“boleh, jam brp? Dmn?”
“jam 5 subuh di pasar, hahha”
“sumpah, lucu lo -.-)7”
“hahhaha, jam 3an aja yuk di tempat biasa”
“okeh siappp tuan putriii J

Tepat jam 3 sore keesokkan harinya Aries sudah sampai di depan rumah Aerhien. Tanpa berlama-lama, mereka pun langsung menuju bioskop terdekat.
Awalnya sih canggung, tapi tak butuh waktu lama hanya dalam waktu 10 menit suasana menjadi cair. Aries memperlakukan Aerhien seperti pacarnya, begitupun sebaliknya. Pegangan yang erat, sentuhan yang hangat penuh dengan kasih sayang, dan lainnya. Saat itu Aries memang sudah punya kekasih, dan Aerhien juga. “MEREKA SELINGKUH” tidakkkkk, tidak selingkuh hanya berusaha menjalin silaturahmi aja kok :P. Beberapa kali Aries mencium pipi dan kening Aerhien, tapi wanita berusia 21 tahun itu tidak berontak.  
Film tentang pembunuhan ternyata membuat mereka sedikit ngilu, karena cara membunuhnya yang terlalu sadis. Lebih sadis dari lagunya Afgan, hahhaha. Sebenarnya Arhien tidak ada masalah dengan film itu, karena memang dia suka film horor dan bergendre pembunuhan, tapi ia orangnya tidak tegaan.
“tuhhkan, siapa suruh nonton film inii, gegayaan sih jadi orang”
“kan penasaran Ries.. L
“yaudah sini-sini” Aries pun merangkul wanita yang pernah menjadi kekasihnya itu. Dan tanpa ada rasa canggung Aerhien pun memeluk Aries, dan untuk kesekian kalinya pria itu mencium kening Aerhien. Film berakhir dan itu berarti kebersamaan mereka pun berakhir. Karena tujuannya hanya nonton, ya habis nonton langsung pulang, hahhaha. 
Karena teringat dengan kekasih hati, tiba-tiba Aerhien merasa canggung saat di parkiran.
“kenapa Rhien?”
“enggak apa-apa, hayu ah pulang”
“yaudah cepet naek”
…………………………….
“Rhien, loe enggak anggap gue sebagai tukang ojek loe kan?”
“kenapa emangnya?”
“jangan pegang bahu guelah, kayak lagi ngojek aja”
“terusss??”
“sini mana coba liat tangannya” Aerhien pun menyodorkan tanggannya.
“pegangnya tuh disini, biar keliatan akrab” Aries menaruh tangan Aerhien di perutnya, maksudnya sih biar Aerhien meluk. Awalnya sih Aerhien tak mau, tapi tak lama kemudian ia memeluk Aries dengan erat dan sedikit meneteskan air mata.
“thank ya Ries udah mau nemenin gue hari ini”
“iya sama-sama” Aries tahu keadaan Aerhien yang sedih, karena mereka telah saling mengenal sejak lama.  Sepanjang perjalanan pulang mereka tak saling bicara tapi pelukan Aerhien yang begitu erat telah menggambarkan semuanya. Tak jauh dari rumah Aerhien, Aries tiba-tiba berhenti.
“Rhien, are you oke? Sebentar lagi kita sampai rumah loe, hapus ya air matanya”
“gue enggak nangis kok”
“masih aja sih pura-pura sama gue. Udah ya jangan sedih lagi”
“okeh” Aries pun mencium lembut kening Aerhien dan langsung tancap gas menuju rumah sang mantan kekasih.

Sekitar 10 menit setelah Aries pamit pulang, Aerhien langsung menyalakan Handphone dan menelpon Nudi (kekasih hatinya). Begitu pun Aries, ia menelpon Syarah (sang pujaan hati). “aku otw rumah kamu, kamu siap-siap kita keluar malam ini”. Telah menjadi kesepakatan mereka berdua, selama nonton handphone di nonaktifkan, biar enggak ada yang ganggu.

Aries dan Aerhien sebenarnya masih saling sayang, tapi mereka tidak bisa bersatu. Ya kalau lagi sama-sama kangen paling menyempatkan waktu untuk berdua seperti nonton, dan lain-lain. Wanita itu kalau lagi sedih pasti pingin di dekat prang-orang yang ia sayangi. Seperti Aerhien yang butuh seseorang karena sedang ada masalah dengan pacarnya yang keberadaannya jauh disana. Yuph Aerhien LDR-an sama pacarnya. Sementara Aries jarang bertemu sama pacar karena kesibukan masing-masing.       

DISAAT RASI BINTANG DI HATI UDARA

BAB 6


Hari itu jam kepulangan lebih cepat dari biasanya karena dosen berhalangan hadir. Seperti biasa Aerhien dan Aries  pulang bersama, saat di tengah perjalanan..

“hmmmmmmm, Ries entar boleh muter-muter dulu enggak keliling kompleks sebentar?” ucap Aerhienn yang tiba-tiba menaruh dagunya dibahu Aries
“kenapa?”
“lagi bosen, lagi males pulang, jadi pingin muter-muter aja dulu”
“dasarrr cewek…” Aries pun terus melaju, tapi bukan ke arah pulang melainkan kesuatu arah yang berlainan yang tentunya membuat Aerhien terheran. Ternyata mereka berbelok arah suatu mall.
“Ries, kok kita kesini sih? Mau ngapain? Loe mau belanja?”
“katanya lagi bosen, dari pada keliling kompleks yang enggak jelas, mending kita nonton disini. Ada film baru yang belum gue tonton dan pasti loe juga belom nonton ini film”
“kenapa jadi gue patokannya?”
“ya karena kita sama-sama sibuk kuliah, terus pulang siang baru hari ini aja kan? Dan ini film baru keluar beberapa hari yang lalu”
“hmmm gitu yahhhh, tapiii Riessss”
“entar kita jam 8 malam udah di rumah loe”
“tapi Riesss”
“jangan kkebanyakan tapi, udah nurut ajah”
“yaudah deh”

Setelah memesan tiket mereka pun nunggu di bangku yang telah disediakan di bioskop tersebut, karena kurang dari 30 menit lagi film mulai, mereka mengisinya dengan main game di handphone masing-masing.
“Riess, boleh nanya?” ucap Aerhien sambil sibuk memainkan handphone layar sentunya, begtu pun Aries saat menjawab pertanyaan dari Aerhien
“Apa?”
“kenapa tiba-tiba loe ngajak gue nonton disini?”
“kan alasannya udah ue kasih tahu tadi, perlu di ulang?”
“hanya itu alasannya? Enggak ada yang lain?”
“ yuph hanya itu”
“ oiya Riess, loe masih mau tebengin gue kalau pulang ataupun berangkat?”’
“kita searah kan? Saling ngebantu apa salahnya, dapat pahala juga kan?”
“hmmm, Riesss, kok gue ngerasa loe berubah yah?”
“berubah gimana?”
“ya berubah aja, perasaan aries yang sekarang itu lebih cuek”
“perasaan loe aja kali”
“tapi bener lho Ries, bahkan di kelas aja loe kayak menghindar dari gue, terutama di depan anak-anak. Boro negur, ngelirik aja enggak”
“biasa aja kayaknya”
“loe enggak suka sama gue? Loe enggak suka kalau diledekin sama anak-anak tentang kita berdua?”
“biasa aja”
“ terus kenapa? Jujur gue lebih suka Aries yang dulu. Lebih ramah, lebih nyenengin deh pokoknya, enggak kayak sekarang”
“gue juga lebih suka Aerhien yang dulu, enggak bawel kayak sekarang”
“gue bawel yah orangnya? Maaffff”
“Riessss, boleh nanya??”
“nanya apa lagi? Kirain udah kelar nanya nya”
“kalau gue pingin sama-sama terus sama loe, boleh?”
Aries hanya diam membisu sambil terus bermain game.
“kok diem Ries?? Mulutnya habis kena lem yahhh?? Ckckkckckc, becanda Riessss, jangan kaku gitu ahhh, hahhaha” ledek Aerhien yang juga masih bermain game di handphonenya. Tak lama kemudian pengumuman pintu bioskop sudah terdengar dan mereka berdua pun masuk ke dalam ruangan. Saat ruangan sudah gelap, Aries memulai pembicaraan sambil menatap layar.
“Rhiennn”
“iyaaaaa”     
“sekarang gantian gue yang nanya sama loe”
“apa?”
“loe mau sama-sama terus sama gue?”
“haaaa????”
“kok ditanya malah haah sih jawabannya?”
“itu kan pertanyaan gue, kenapa lo tanyain lagi ke gue, enggak kreatif”
“emang enggak boleh kalau gue Tanya begitu ke loe?”
“boleh kokkkk, yaudah ahhh ssssttttttt jangan berisik filmnya udah mulai”
Suasana hening sejenak….
“jadiii jawabnnya apa??” Aerhien pun menarik nafas yang panjang lalu membuangnya dan kemudian menyenderkan kepalanya kebahu Aries dan memegang lengannya lalu berucap “ love you”
Aries pun menyambut kalimat itu dengan senyuman dan mengelus kepala Aerhien dengan lembut lalu menyelipkan jarinya di selah-selah jari Aerhien.

Mereka pun menikmati film tersebut sampai selesai. Setelah nonton mereka langsung pulang karena sudah sore. Saat di depan rumah Aerhien Aries berucap.
“mulai besok, gue akan pastiin loe bener-bener sampai di dalam rumah dengan selamat, enggak di depan rumah seperti ini ataupun di depan jalan sana kayak hari-hari sebelumnyac J
“makasihhhh J
“ sama-sama…, aku pulang dulu yaaaaa”
“ iya hati-hati yaaaaa”


akhirnya setelah sekian lama mereka sepakat untuk berkomitmen juga. Sebenarnya banyak yang menginginkan hal ini terjadi, terutama teman-teman kelas mereka. Karena mereka semua geregetan melihat tingkah Aerhien dan Aries yang terlihat sama-sama cuek tapi aslinya saling peduli satu sama lain. 

Sabtu, 05 April 2014

Senja di Sudut Jakarta (Ingin Aku bilang “Cinta”) BAB 5


Masa SMA sudah berakhir, liburan pun datang dan kami bersiap untuk menjadi pribadi yang mandiri, begitulah kata orang mengenai dunia perkuliahan.

Hari itu kami harus mengurus ijazah dan surat lainnya, dan malam sebelumnya aku sms Nudi, karena aku ingin pulang bareng dengannya, dan ia pun mengiyakan ajakan ku. Tapi setelah selesai mengurus surat-surat tersebut aku tak melihat keberadaannya, aku sms dan telpon pun handphonenya tak ada nada sambung. Mungkin handphonenya mati dan tak lama lagi ia datang karena setahu ku ia adalah tipe orang yang menepati janji. Niatnya hari itu aku akan mengutarakan apa yang ada di hatiku selama ini, tapiiii...

Sudah hampir 2 jam aku menunggu di depan pintu gerbang sekolah, dan suasana sekolah pun telah sepi karena memang sudah sore. Rintikan hujan menambah penderitaan karena aku tak bawa payung dan bus yang sering aku tunggu mendadak tak ada, seperti di film-film. Saat hujan menjadi deras, saat itu pula aku menangis karena takut dan kecewa. Betapa bodohnya aku menunggu orang yang belum tentu menganggap keberadaanku. Betapa bodohnya aku menyukai orang yang belum tentu menyukaiku, tapi apa salah kalau perasaan itu tiba-tiba muncul? Toh aku tidak memintanya, ia datang begitu saja dan entah kapan akan perginya. Sore yang aku bayangkan akan indah karena aku bisa mempunyai waktu lebih dengan Nudi dan mengungkapkan perasaanku yang sesungguhnya, ternyata menjadi sore yang menyedihkan (T.T). saat tangisan itu tak mulai berhenti, tiba-tiba ada yang menghampiriku dann berucap

“Cha, maafin aku. Hpku mati, tadi aku dipaksa sama temen-temen. Dan aku baru tahu kalau kamu masih disini setelah aku cash hpnya. Kenapa kamu enggak pulang?”
“iya ini aku mau pulang” jawabku sambil terus menunduk karena tak mau melihat wajah nudi.
“ Chaaa, kamu baik-baik aja kan?” aku hanya terdiam
“Chaa, chaaaa, ochaaaa” tiba-tiba aku menutup wajahku dengan kedua tangan lalu menangis. Kata orang aku cengeng dan gampang galau.
“ chaa, kamu nangis? Maafin aku yahhh” nudi pun memelukku tapi aku tetap terus menangis, malah tangisan itu semakin kencang, sekencang hujan saat itu.
“aku janji ini yang terakhir, aku enggak akan lakuin hal ini lagi ke kamu” setelah berucap kalimat itu Nudi mencium kening ku, tapi aku tak sadar karena sibuk menangis dan kecupan itu hanya beberapa detik saja.  Setelah Nudi berhasil membuat ku tenang dan hujan berhenti kami pulang bersama. Tak banyak kata yang terucap sore itu. Saat sampai rumah pun aku langsung masuk tanpa berucap basa-basi seperti biasanya. Dan aku mulai bertanya..

Seperti angin yang terus berlalu tanpa henti
Seperti api yang terus berkobar dihati
Seperti air yang terus membasahi dedaunan di pagi hari
Dan seperti itu pula aku yang akan terus menunggu
Menunggu senja hanya untuk melihat sebuah kebahagiaan
Yang entah kapan akan datang menghampiri
Tapiii..
Sampai kapan harus seperti angin?
Sampai kapan harus seperti api atau air?
Sampai kapan aku harus menunggu ?
Akankah penantian ini berakhir pada sebuah kebahagiaan?

Entahlahhhhh… 

Senja di Sudut Jakarta (Ingin Aku bilang “Cinta”) BAB 4


Bulan telah berganti dan kami di sibukkan dengan berbagai ujian. Kesibukkan kelas 3 membuat aku dan yang lainnya pulang sore. Tak jarang Nudi memberikanku tumpangan. Kadang ku berharap senja cepat datang, karena saat senjalah aku dan Nudi mempunyai waktu lebih untuk berbincang.

“Cha..”
“iyaa?”
“kamu capek enggak?”
“lumayan sih, kenapa?”
“mau melepas lelah enggak sejenak?”
“mau sih, kenapa emangnya?”
“nonton yuk Cha, lumayan buat menghibur diri”
“haaaahhh?”
“diajak nonton kok malah jawab haah, mau enggak?”
“ gimana yah? Mau sih tapi ini kan udah sore sebentar lagi mau magrib, terus pulangnya nanti gimana?”
“ya enggak gimana-gimana, nanti aku anterin pulang deh sampai rumah”
“tapi kan aku belum izin sama orang rumah, kalau di cariin gimana?”
“ya nanti kita izin dulu, kalau perlu nanti aku yang izinin, gimana?”
“hmmm, gimana yahhh? Enggak deh lain kali aja, lagi pula aku takut”
“takut kenapa?”
“enggak apa-apa, lagi pula tugas lagi banyak, besokkan juga masuk pagi”
“ohh gitu yaudah deh”
“maaf ya, lain kali deh kita nontonnya”
“semoga lain kali itu aku bisa ya”

Sebenarnya aku sangat ingin menonton dengan Nudi, tapi aku tidak bisa, takut akan perasaan yang semakin dalam. Kata orang kesempatan itu hanya datang sekali, dan jika kesempatan itu hilang maka kita akan kehilangan kesempatan itu untuk selamanya,  dan sebenarnya aku tidak ingin kehilangan kesempatan itu, karena perasaan takut yang tak jelas itu aku tak tahu akan kah kesempatan itu akan datang lagi atau akan benar-benar hilang. :(


Setelah ujian nasional dan pengumuman kelulusan telah keluar, perasaan senang tapi sedih menjadi satu. Kehilangan masa-masa SMA dan tentunya aku akan kehilangan dia yang menjadi alasannku datang pagi-pagi kesekolah dan dia yang menjadi alasanku untuk setia berdiri dekat pagar sekolah hanya untuk melihat dirinnya lewat. 

Senja di Sudut Jakarta (Ingin Aku bilang “Cinta”) BAB 3



Cahaya matahari yang cerah membuat hati dan pikiran menjadi cerah. Senyuman termanis aku persembahkan untuk pagi ini. Tak sabar untuk bertemu Nudi dan mengembalikan jaketnya. Seperti biasa aku menunggu di sudut kelas untuk melihatnya tapi sampai bel berbunyi ia tak kunjung datang. Saat istirahat pun tak Nampak batang hidungnya, bahkan saat pulang pun begitu. Dan itu berlangsung selama 3 hari.
Saat aku menjenguk sepupu di rumah sakit ternyata sosok Nudi terlihat di taman rumah sakit sedang duduk diatas kursi roda.

“Nudi?”
“ lho Cha, kamu disini?”
“ kamu kenapa?” aku terkejut dan terus melihat kondisi Nudi dari ujung kaki hingga ujung rambut.
“biasa kurang hati-hati, jadi seperti ini deh. Kamu ada apa kemari?”
“ kepala dan kaki kamu??” saat itu aku masih terkejut melihat kepala dan kaki yang di balut.
“ Cuma luka ringan kok, tidak ada yang perlu di khawatirkan” entah apa alasannya saat itu tiba-tiba saja air mataku menetes.
“ lho Cha, kamu menangis? Kenapa? Aku kan masih hidup belum mati”
“ hhmmm maaf, aku Cuma terkejut melihat kondisi kamu sekarang. Terakhir kita ketemu kamu masih sehat”
“iya, habis aku pulang dari rumah mengantarmu, aku mengalami kecelakaan dan seperti ini dampaknya. Sempat koma sehari tapi tak ada masalah sekarang”
Kami pun akhirnya berbincang di taman, menikmati langit jingga sambil duduk di atas bangku membuat aku merasa dekat dengan Nudi. Karena langit sudah gelap akhirnya aku mengantarkan Nudi ke ruangannya dan ternyata disana sudah ada sang mama yang sedang menunggu. Dan aku tiba-tiba teringat tujuanku ke rumah sakit saat itu adalah untuk menjenguk sepupu,, hahahahha.

Selama beberapa hari dengan beralasan menjenguk sepupu yang di rawat aku juga sekalian melihat kondisi Nudi, meskipun aku hanya melihatnya dari kejauhan.


Kurang lebih 2 minggu Nudi tidak masuk sekolah, dan saat jam istirahat ternyata aku melihatnya sedang berbincang bersama teman-temannya di pojok kantin. Senang tapi kesenangan itu aku simpan sendiri, tak perlu ada orang yang tahu, cukup aku dan Tuhan yang tahu, kalau pun ia tahu aku harap ia dapat menyembunyikannya sampai waktunya tiba.