Sabtu, 05 April 2014

Senja di Sudut Jakarta (Ingin Aku bilang “Cinta”) BAB 3



Cahaya matahari yang cerah membuat hati dan pikiran menjadi cerah. Senyuman termanis aku persembahkan untuk pagi ini. Tak sabar untuk bertemu Nudi dan mengembalikan jaketnya. Seperti biasa aku menunggu di sudut kelas untuk melihatnya tapi sampai bel berbunyi ia tak kunjung datang. Saat istirahat pun tak Nampak batang hidungnya, bahkan saat pulang pun begitu. Dan itu berlangsung selama 3 hari.
Saat aku menjenguk sepupu di rumah sakit ternyata sosok Nudi terlihat di taman rumah sakit sedang duduk diatas kursi roda.

“Nudi?”
“ lho Cha, kamu disini?”
“ kamu kenapa?” aku terkejut dan terus melihat kondisi Nudi dari ujung kaki hingga ujung rambut.
“biasa kurang hati-hati, jadi seperti ini deh. Kamu ada apa kemari?”
“ kepala dan kaki kamu??” saat itu aku masih terkejut melihat kepala dan kaki yang di balut.
“ Cuma luka ringan kok, tidak ada yang perlu di khawatirkan” entah apa alasannya saat itu tiba-tiba saja air mataku menetes.
“ lho Cha, kamu menangis? Kenapa? Aku kan masih hidup belum mati”
“ hhmmm maaf, aku Cuma terkejut melihat kondisi kamu sekarang. Terakhir kita ketemu kamu masih sehat”
“iya, habis aku pulang dari rumah mengantarmu, aku mengalami kecelakaan dan seperti ini dampaknya. Sempat koma sehari tapi tak ada masalah sekarang”
Kami pun akhirnya berbincang di taman, menikmati langit jingga sambil duduk di atas bangku membuat aku merasa dekat dengan Nudi. Karena langit sudah gelap akhirnya aku mengantarkan Nudi ke ruangannya dan ternyata disana sudah ada sang mama yang sedang menunggu. Dan aku tiba-tiba teringat tujuanku ke rumah sakit saat itu adalah untuk menjenguk sepupu,, hahahahha.

Selama beberapa hari dengan beralasan menjenguk sepupu yang di rawat aku juga sekalian melihat kondisi Nudi, meskipun aku hanya melihatnya dari kejauhan.


Kurang lebih 2 minggu Nudi tidak masuk sekolah, dan saat jam istirahat ternyata aku melihatnya sedang berbincang bersama teman-temannya di pojok kantin. Senang tapi kesenangan itu aku simpan sendiri, tak perlu ada orang yang tahu, cukup aku dan Tuhan yang tahu, kalau pun ia tahu aku harap ia dapat menyembunyikannya sampai waktunya tiba. 

0 komentar:

Posting Komentar